Minggu, 12 April 2020

Jangan ada merasa "paling" diantara kita



“Bis vincit qui se vincit in victoria” (Publius Syrus).
  “Siapa yang menang atas dirinya menang dua kali.”

            Sebuah frasa latin yang menarik sekali dalam maksud yang dapat saya tangkap ialah orang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam hal apapun merupakan sebenar-benarnya pemenang.  Ada perumpamaan lain manusia mampu menaklukkan luar angkasa dengan mendaratnya manusia di bulan tapi manusia jauh lebih sulit menaklukkan dirinya sendiri. Situasi kondisi masyarakat kita saat ini dipenuhi gejolak antara mengikuti himbauan pemerintah untuk physical distancing yang dapat merubah pola hidup setiap individu ataukah tetap menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Pilihan yang cukup sulit karena keduanya memiliki resiko masing-masing, apalagi bagi masyarakat yang mendapatkan penghasilannya perhari seperti pedagang. Dampak perekonomian akan terasa jika mengikuti himbauan pemerintah dan satu sisi lain harus turut serta menjaga kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus, pelik bukan.
           
            Kepelikan hal tersebut tertolong dengan kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah untuk membantu perekonomian masyarakatnya dan juga pastinya warga +62 yang masih memiliki semangat gotong royong  dalam berbagi kepada sesama, suatu tradisi yang harus lestari hingga akhir zaman. Namun ada hal lain yang lebih pelik dari itu yaitu dihentikannya sementara ritual keagamaan untuk menghindari kerumunan masa dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus itu sendiri. Perwakilan setiap pemuka agama pun   menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat. Berharapnya seiya sekata tapi apa daya setiap manusia memiliki individual differences. Baru-baru saja dihebohkan di lini masa mengenai pemaksaan kehendak sekelompok orang untuk melaksanakan peribadatan menembus pagar yang sudah dijaga oleh aparat.

Ada aksi ada reaksi, masyarakat tak menghiraukan lagi seruan atau himbauan dari pemerintah padahal sudah mengetahui akan hal tersebut. Tak ada yang harus disalahkan dalam hal ini namun juga tidak bisa dibenarkan pasti ada penyebabnya, ditelaah dari jawaban masyarakat dari pemberitaan di media bahwa  mereka menilai pemerintah tidak ada “solusi”. Dalam hal ini sangat berbahaya bagi pemerintah itu sendiri karena memungkinkan munculnya benih-benih public distrust. Hal lain kemungkinan yang menjadi pemicu hal tersebut ialah perbedaan pendapat, karena merupakan persoalan agama yang memiliki berbagai macam rujukan ilmu.

 Sekelompok orang gelisah dan berusaha menerobos membuka pagar secara paksa karena sudah dua pekan ditutup terangnya. Dalam hal ini kemungkinan  masa berkerumun mengalami deindividuasi hingga bertindak agresif karena hilangnya identitas diri karena menyatu dalam kelompok. Perbedaan pendapat lumrah adanya namun sangat disayangkan hilangnya empati sebagian masyarakat dalam merespon pandemi ini, hingga tidak memperdulikan rasa kemanusiaan di sekitarnya lagi merupakan suatu momok yang menakutkan ketimbang virus itu sendiri. Bijaknya jikalau mau dipahami juga harus bisa memahami perspektif orang lain. Penggiringan opini berlanjut seakan-akan virus ini tidak berbahaya hanya dibesar-besarkan oleh media, namun bisa dilihat adanya fakta dan data yang menjawab bukan pesan WhatsApp dari tetangga.

Pemerintah terkait pun merespon hal ini harus dengan serius karena ketidakpercayaan publik ini jika dibiarkan akan menggerogoti program kerja pemerintah. Reaksi cepat langkah-langkah awal yang mungkin bisa dilaksanakan oleh pemerintah ialah kembali  untuk duduk diskusi menyamakan persepsi ke semua tokoh yang berpengaruh lalu mensosialisasikan ke masyarakat, setelahnya semoga bisa dipahami.  Harapannya tidak muluk-muluk masyarakat rukun dan damai tidak terjadi agresivitas antara sekelompok masyarakat dengan aparat pemerintah karena nanti bukan virusnya yang kabur malah masyarakat atau pemerintah yang di  kubur.

Karena perpecahan itu mudah sekali terjadi asal kita merasa paling benar saja. Lalu apa hubungannya frasa latin pada kalimat pembuka di atas dengan fenomena ini, setiap individu harusnya bisa menaklukkan dirinya sendiri terutama mengesampingkan ego merasa paling benar, menjunjung tinggi empati, agar terjaganya kerukunan dan kedamaian di bumi Indonesia ini. Persatuan ditegakkan, perbedaan pendapat dihormati, empati dan rasa kemanusiaan dijunjung tinggi.


Wallahu’alam bishowab.
Hanif Al Gifary