“Bis vincit qui se vincit in victoria” (Publius Syrus).
“Siapa yang
menang atas dirinya menang dua kali.”
Sebuah
frasa latin yang menarik sekali dalam maksud yang dapat saya tangkap ialah orang
yang bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam hal apapun merupakan
sebenar-benarnya pemenang. Ada
perumpamaan lain manusia mampu menaklukkan luar angkasa dengan mendaratnya
manusia di bulan tapi manusia jauh lebih sulit menaklukkan dirinya sendiri. Situasi
kondisi masyarakat kita saat ini dipenuhi gejolak antara mengikuti himbauan
pemerintah untuk physical distancing yang
dapat merubah pola hidup setiap individu ataukah tetap menjalani kehidupan
normal seperti biasanya. Pilihan yang cukup sulit karena keduanya memiliki
resiko masing-masing, apalagi bagi masyarakat yang mendapatkan penghasilannya
perhari seperti pedagang. Dampak perekonomian akan terasa jika mengikuti
himbauan pemerintah dan satu sisi lain harus turut serta menjaga kesehatan
untuk memutus mata rantai penyebaran virus, pelik bukan.
Kepelikan
hal tersebut tertolong dengan kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah untuk
membantu perekonomian masyarakatnya dan juga pastinya warga +62 yang masih
memiliki semangat gotong royong dalam berbagi
kepada sesama, suatu tradisi yang harus lestari hingga akhir zaman. Namun ada
hal lain yang lebih pelik dari itu yaitu dihentikannya sementara ritual
keagamaan untuk menghindari kerumunan masa dalam rangka memutus mata rantai
penyebaran virus itu sendiri. Perwakilan setiap pemuka agama pun menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat. Berharapnya seiya sekata tapi apa daya setiap manusia
memiliki individual differences. Baru-baru
saja dihebohkan di lini masa mengenai pemaksaan kehendak sekelompok orang untuk
melaksanakan peribadatan menembus pagar yang sudah dijaga oleh aparat.
Ada aksi ada reaksi, masyarakat
tak menghiraukan lagi seruan atau himbauan dari pemerintah padahal sudah
mengetahui akan hal tersebut. Tak ada yang harus disalahkan dalam hal ini namun
juga tidak bisa dibenarkan pasti ada penyebabnya, ditelaah dari jawaban masyarakat
dari pemberitaan di media bahwa mereka
menilai pemerintah tidak ada “solusi”. Dalam hal ini sangat berbahaya bagi
pemerintah itu sendiri karena memungkinkan munculnya benih-benih public distrust. Hal lain kemungkinan
yang menjadi pemicu hal tersebut ialah perbedaan pendapat, karena merupakan persoalan
agama yang memiliki berbagai macam rujukan ilmu.
Sekelompok orang gelisah dan berusaha
menerobos membuka pagar secara paksa karena sudah dua pekan ditutup terangnya.
Dalam hal ini kemungkinan masa berkerumun
mengalami deindividuasi hingga bertindak agresif karena hilangnya identitas
diri karena menyatu dalam kelompok. Perbedaan pendapat lumrah adanya namun
sangat disayangkan hilangnya empati sebagian masyarakat dalam merespon pandemi
ini, hingga tidak memperdulikan rasa kemanusiaan di sekitarnya lagi merupakan
suatu momok yang menakutkan ketimbang virus itu sendiri. Bijaknya jikalau mau
dipahami juga harus bisa memahami perspektif orang lain. Penggiringan opini
berlanjut seakan-akan virus ini tidak berbahaya hanya dibesar-besarkan oleh
media, namun bisa dilihat adanya fakta dan data yang menjawab bukan pesan WhatsApp
dari tetangga.
Pemerintah terkait pun
merespon hal ini harus dengan serius karena ketidakpercayaan publik ini jika dibiarkan
akan menggerogoti program kerja pemerintah. Reaksi cepat langkah-langkah awal yang
mungkin bisa dilaksanakan oleh pemerintah ialah kembali untuk duduk diskusi menyamakan persepsi ke
semua tokoh yang berpengaruh lalu mensosialisasikan ke masyarakat, setelahnya
semoga bisa dipahami. Harapannya tidak
muluk-muluk masyarakat rukun dan damai tidak terjadi agresivitas antara
sekelompok masyarakat dengan aparat pemerintah karena nanti bukan virusnya yang
kabur malah masyarakat atau pemerintah yang di
kubur.
Karena perpecahan itu
mudah sekali terjadi asal kita merasa paling benar saja. Lalu apa hubungannya
frasa latin pada kalimat pembuka di atas dengan fenomena ini, setiap individu
harusnya bisa menaklukkan dirinya sendiri terutama mengesampingkan ego merasa
paling benar, menjunjung tinggi empati, agar terjaganya kerukunan dan kedamaian
di bumi Indonesia ini. Persatuan ditegakkan, perbedaan pendapat dihormati,
empati dan rasa kemanusiaan dijunjung tinggi.
Wallahu’alam bishowab.
Hanif Al Gifary