Minggu, 12 April 2020

Jangan ada merasa "paling" diantara kita



“Bis vincit qui se vincit in victoria” (Publius Syrus).
  “Siapa yang menang atas dirinya menang dua kali.”

            Sebuah frasa latin yang menarik sekali dalam maksud yang dapat saya tangkap ialah orang yang bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam hal apapun merupakan sebenar-benarnya pemenang.  Ada perumpamaan lain manusia mampu menaklukkan luar angkasa dengan mendaratnya manusia di bulan tapi manusia jauh lebih sulit menaklukkan dirinya sendiri. Situasi kondisi masyarakat kita saat ini dipenuhi gejolak antara mengikuti himbauan pemerintah untuk physical distancing yang dapat merubah pola hidup setiap individu ataukah tetap menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Pilihan yang cukup sulit karena keduanya memiliki resiko masing-masing, apalagi bagi masyarakat yang mendapatkan penghasilannya perhari seperti pedagang. Dampak perekonomian akan terasa jika mengikuti himbauan pemerintah dan satu sisi lain harus turut serta menjaga kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus, pelik bukan.
           
            Kepelikan hal tersebut tertolong dengan kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah untuk membantu perekonomian masyarakatnya dan juga pastinya warga +62 yang masih memiliki semangat gotong royong  dalam berbagi kepada sesama, suatu tradisi yang harus lestari hingga akhir zaman. Namun ada hal lain yang lebih pelik dari itu yaitu dihentikannya sementara ritual keagamaan untuk menghindari kerumunan masa dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus itu sendiri. Perwakilan setiap pemuka agama pun   menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat. Berharapnya seiya sekata tapi apa daya setiap manusia memiliki individual differences. Baru-baru saja dihebohkan di lini masa mengenai pemaksaan kehendak sekelompok orang untuk melaksanakan peribadatan menembus pagar yang sudah dijaga oleh aparat.

Ada aksi ada reaksi, masyarakat tak menghiraukan lagi seruan atau himbauan dari pemerintah padahal sudah mengetahui akan hal tersebut. Tak ada yang harus disalahkan dalam hal ini namun juga tidak bisa dibenarkan pasti ada penyebabnya, ditelaah dari jawaban masyarakat dari pemberitaan di media bahwa  mereka menilai pemerintah tidak ada “solusi”. Dalam hal ini sangat berbahaya bagi pemerintah itu sendiri karena memungkinkan munculnya benih-benih public distrust. Hal lain kemungkinan yang menjadi pemicu hal tersebut ialah perbedaan pendapat, karena merupakan persoalan agama yang memiliki berbagai macam rujukan ilmu.

 Sekelompok orang gelisah dan berusaha menerobos membuka pagar secara paksa karena sudah dua pekan ditutup terangnya. Dalam hal ini kemungkinan  masa berkerumun mengalami deindividuasi hingga bertindak agresif karena hilangnya identitas diri karena menyatu dalam kelompok. Perbedaan pendapat lumrah adanya namun sangat disayangkan hilangnya empati sebagian masyarakat dalam merespon pandemi ini, hingga tidak memperdulikan rasa kemanusiaan di sekitarnya lagi merupakan suatu momok yang menakutkan ketimbang virus itu sendiri. Bijaknya jikalau mau dipahami juga harus bisa memahami perspektif orang lain. Penggiringan opini berlanjut seakan-akan virus ini tidak berbahaya hanya dibesar-besarkan oleh media, namun bisa dilihat adanya fakta dan data yang menjawab bukan pesan WhatsApp dari tetangga.

Pemerintah terkait pun merespon hal ini harus dengan serius karena ketidakpercayaan publik ini jika dibiarkan akan menggerogoti program kerja pemerintah. Reaksi cepat langkah-langkah awal yang mungkin bisa dilaksanakan oleh pemerintah ialah kembali  untuk duduk diskusi menyamakan persepsi ke semua tokoh yang berpengaruh lalu mensosialisasikan ke masyarakat, setelahnya semoga bisa dipahami.  Harapannya tidak muluk-muluk masyarakat rukun dan damai tidak terjadi agresivitas antara sekelompok masyarakat dengan aparat pemerintah karena nanti bukan virusnya yang kabur malah masyarakat atau pemerintah yang di  kubur.

Karena perpecahan itu mudah sekali terjadi asal kita merasa paling benar saja. Lalu apa hubungannya frasa latin pada kalimat pembuka di atas dengan fenomena ini, setiap individu harusnya bisa menaklukkan dirinya sendiri terutama mengesampingkan ego merasa paling benar, menjunjung tinggi empati, agar terjaganya kerukunan dan kedamaian di bumi Indonesia ini. Persatuan ditegakkan, perbedaan pendapat dihormati, empati dan rasa kemanusiaan dijunjung tinggi.


Wallahu’alam bishowab.
Hanif Al Gifary


Selasa, 03 Juli 2018

Hadiah untuk Bundadari


                  Sebelum kita menghirup oksigen untuk pertama kalinya di dunia yang fana ini,tentunya ada beberapa hal yang tidak bisa kita pesan sesuai kehendak kita bak memesan model baju ke tukang jahit sesuai rancangan kita,lah iya dong jangan samakan Tuhan dengan tukang jahit. Hal tersebut contohnya seperti kita dilahirkan dengan jenis kelamin apa lalu masih saja ada yang kurang bersyukur,kurang puas tak heran banyak yang berganti jenis kelamin,operasi lalu dipotong duh,cukup jangan dibayangkan ngilu. Kemudian kita keturunan siapa maunya sih keturunan Bill Gates lah emang mau Bill Gates punya keturunan kaya situ hehehe,tempat lahir kita dimana maunya sih di Los Angles eh ternyata di aluh-aluh,nasib.

            Begitulah kira-kira hal yang tidak bisa kita pilih ketika kita terlahir di dunia,untunglah Allah itu maha adil jika dengan cara memilih sendiri  mungkin kacaulah dunia dengan segala keserakahan manusia,na’udzubillah. Begitu pula dengan kedua orang tuaku mereka terlahir di keluarga yang sederhana,bukan keturunan orang alim maupun konglomerat. Dalam halnya beribadah tentunya sebagai muslim yang taat akan melaksanakan rukun islam karena merupakan suatu kewajiban,namun semua muslim jalan hidupnya bermacam-macam ada yang bisa menunaikan rukun islam itu seutuhnya ada juga yang tidak sempat keburu ajal menjemput. Begitu pula lah ayah dan ibu kedua orang tuaku yang juga merupakan kakek-nenekku jalan hidup beliau belum ditakdirkan untuk seutuhnya menunaian rukun islam.

            Semuanya pasti sudah menduga bahwa rukun islam yang ke lima lah yang biasanya kaum muslimin-muslimat belum bisa menunaikannya walau niat itu sudah tertanam dalam hati jauh-jauh hari namun takdir berkata lain,tapi tak ada paksaan  hanya wajib bagi yang mampu,indah bukan islam ini,kita tahu sendiri sekarang antrian jamaah haji di indonesia belasan tahun wajar saja karena indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia ga tau kalau di akhirat. Alhamdulillah dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh-Nya sekian tahun menunggu tahun ini kedua orang tuaku mendapatkan rezeki untuk bisa menunaikan ibadah haji,ekspresi kebahagiaan ini tak bisa diungkapkan kecuali dengan rasa syukur yang tiada hentinya menulis tulisan ini pun mata sambil berkaca-kaca karena rasa bahagia dan syukur terlimpah mengingat dalam keluarga yang sederhana ini belum ada yang pernah melaksanakan rukun islam ke lima tersebut.

            Bundadari begitu tulisan di kontak WhatsAppku,ibadah haji inilah hadiah bakti beliau kepada kedua orang tuanya,seluk beluk Rumah Sakit beliau ketahui bukan karena seorang pegawai di Rumah Sakit melainkan hari-hari beliau banyak dihabiskan di Rumah Sakit untuk merawat kedua orang tuanya hingga ajal menjemput bukan hanya kedua orang tuanya saja saudara tertua beliaupun ketika sakit harus di rawat di Rumah Sakit tak ketinggalan beliau ikut untuk menemani merawatnya,sungguh besar baktimu akan menjadi tauladan untukku tak salah jika ku sebut ini merupakan hadiah,ya hadiah dari baktinya selama ini kepada kedua orang tuanya,namun hadiah dari baktinya itu tak hanya dengan mendapatkan rezeki untuk menunaikan ibadah haji tapi juga dengan memiliki keturunan yang  soleh dan berbakti juga,semoga,doain dong.Aaamin.

Notes : Saat tulisan ini ditulis di tempat makan TVnya pas menayangkan siaran di Mekkah dan ada orang yang nanya minjam korek tampang perokok rupanya aku.



Selasa, 11 Oktober 2016

Gengsi gede,utang bejibun



Sejak kecil mungkin kita  sudah mengetahui pepatah lama ini “besar pasak daripada tiang”,yang banyak diartikan orang-orang merupakan suatu permasalahan yaitu  pengeluaran lebih banyak ketimbang pemasukan,repotkan,iya memang,tak heran dizaman semodern dan secanggih sekarang ini gaya hidup seperti pepatah tersebut tersebar diseluruh kalangan,dari ABG hingga kaum sosialita,dari yang tinggal di pedesaaan hingga di perkotaaan,tidak semua memang tapi ya adalah. Apasih akibatnya yang terjadi dari hal tersebut tentunya hutang melimpah ruah SBA (Setiap Bank Ada),pegadaian terisi banyak barang berharga,dan untuk para ABG akan menjadi STA (Setiap Teman Ada) hutangnya,menyusahkan diri sendirikan,iya memang. Lalu,apa sih yang menjadi penyebabnya saya cuma menebak namun sepertinya memang ini penyebabnya yaitu “gengsi” yang besar khsususnya dalam segi ekonomi. 

Gengsi itu ibarat suatu kehormatan atau harga diri bagi dirinya jika tidak melakukan hal tersebut rasa-rasanya harga dirinya tidak ada,terlalu membebankan bukan,banyak kasus dijumpai khsusus para ABG misal ketika diajak liburan ke luar kota sama geng sahabatnya namun dia saat itu tidak punya uang,mau minta sama orang tua tidak dikasih,akhirnya minjam sama temen dengan alasan apalah namun bukan karena dirinya sendiri karena malu masa orang kaya minjam duit, tapi membuat seakan-akan  yang membutuhkan duit itu misal keluarganya, double kemunafikan yang terselebung bukan,pertama tidak mau jujur bahwa tidak punya duit,yang kedua ngutang tidak mau  atas nama dirinya. Apa untungnya hal tersebut nehi nehi tidak ada kawan,malah memperburuk keadaan yang pertama harus mencari duit untuk bayar hutang,ya syukur kalau lunas ya kalau tidak namamu dan nama keluaragamu menjadi buruk dimata orang.

Runyam memang jika sejak ABG sudah membiasakan dengan gaya hidup gengsi,bagaimana nanti kalau sudah besar jika mau menikah misal punya duit sedikit namun punya gengsi gede tidak lain karena makan omongan orang lain,yang cuman bermodalkan mulut doang,akhirnya kita kemakan omongannya dan ngutang lagi,bikin acara pernikahan semewah mungkin padahal dari hasil ngutang,ketika acara berkahir orang yang ngomongin itu perlahan dengan santai pulang kerumah masing-masing dan akhirnya kita yang pusing memikirkan cara untuk membayar hutang tersebut,andai orang yang ngomongin itu juga ikut membayarkan hutang wesss ademmm…maka inilah yang disebut penyiksaan diri sendiri yang terselubung,andai tidak kemakan omongan orang lain ini dan itu,tentunya acara resepsi pernikahan tersebut dilaksanakan dengan kemampuan kita sendiri tak perlu ngutang sana sini,acara berakhir tak perlu ada yang dipikirkan,orang tua tidak terbebani dan hidup menjadi bahagia bukan. Itulah mengapa gengsi itu sangat berbahaya khususnya gengsi dalam segi ekonomi.

Jujur apa adanya jika tidak punya
Jujur tidak akan menurunkan harga dirimu
Tidak ada yang membenci orang yang jujur,kecuali jika kamu jujur menyatakan cinta pada wanita yang sudah bersuami,hehehehe.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pelet ! situ laki ?



Setiap tahun zaman semakin modern,penemuan demi penemuaan teknologi semakin canggih,disetiap belahan dunia orang berlomba-lomba untuk menciptakan teknologi terbaru untuk untuk mempermudah manusia dalam berinteraksi,akses komunikasi antar manusiapun semakin gampang yang dulunya hanya bisa kirim via surat-menyurat berminggu-minggu baru sampai itupun kalau sampai ,tapi  sekarang tinggal pencet wajah kita dan wajah orang yang kita hubungi sudah terpampang jelas di layar walau orangnya diujung dunia sekalipun.
Tersadar oleh kita dalam halnya mencari pasangan hidup itu adalah lumrah bagi setiap insan manusia yang ingin segera melepas masa lajang dan terutama bagi muslim untuk mengerjakan sunah Rasulullah SAW. Berbagai macam cara yang dilakukan seorang lelaki ataupun wanita yang ingin menarik perhatian lawan jenisnya,berbagai macam kode dilakukan,berbagai macam usaha dilakukan,berbagai macam trik dilakukan dizaman secanggih ini demi menarik perhatian lawan jenis yang sangat disukainya,terutama para lelaki. Adakalanya hal tersebut mendapatkan nol besar sangat tidak membuahkan hasil, tentunya itu sangat mengecewakan karena kata orang beda keyakinan kita yakin mau dia yakin tidak,hal tersebut sangat menyakitkan kawan.
Lelaki yang gentle tentunya setelah melakukan usaha dan tidak membuahkan hasil tentunya sadar diri dan menyadari bahwa itu bukan jodohnya dan perlahan melangkah pergi untuk “move on” namun ternyata  dizaman secanggih sekarang masih saja ada orang yang berpikiran kolot,sangat jauh dari kata gentle yaitu pergi ke dukun seperti pepatah “Cinta ditolak,dukun bertindak”. Wahai kawan cinta itu tidak bisa dipaksa apalagi dipelet,sehebat-hebat peletanmu dia nanti akan tersadar dan pasti akan menjauh darimu,marilah dizaman secanggih ini lupakanlah dukun lupakanlah peletan,mari mencari cinta yang hakiki atas ridho-Nya bukan atas Mbah dukun. Jika caramu masih main pelet,kejantantanmu patut dipertanyakan.

 Janganlah kau beri sedikit celah harapan dalam hatimu,jika dirimu ragu.
Jangan biarkan celah itu terbuka lebar,jika kau tak merasa terselip rindu.
Biarkan celah itu menemukan sendiri mana yang pantas untuk menjadi cahaya didalam hidupnya.
Karena cahaya itu akan selalu menyinarimu kapanpun dan dimanpun kau berada.




Minggu, 21 Juni 2015

Ramadhan & Lima Ratusan Perak Orang utan (Part I)

         Ramadhan merupakan suatu bulan yang penuh berkah bulan yang sangat dinanti umat muslim apalagi umat muslim yang berjualan es cendol,es dawet serta para keluarga es lainnya,hehe. Ramadhan selalu diisi dengan ibadah karena didalam bulan tersebut terdapat malam lailatul qadar yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan,lalu bagaimanakah bulan ramadhan tersebut dimata anak-anak. Ramadhan yang saya rasakan ketika anak-anak itu ialah puasa yang  berimbalan,sholat tarawih yang menipu, tadarusan berjama’ah one night one juz.

      Anak-anak merupakan dimana suatu sifat “keluguan” itu masih ada pada dirinya dan hidup masih fresh tanpa beban,tidak ada pikiran permasalahan hiruk pikuknya dunia yang fana ini, dan yang pasti tidak pernah terucap dalam diri mereka suatu kata trend zaman sekarang yaitu ‘pucing pala balbie” hehehe,sehingga apa yang mereka lakukan itu selalu sah dimata orang-orang. Islam pun mengajarkan bahwa ada batas anak-anak tersebut dikatakan wajib untuk beribadah yaitu baligh (berakal) yaitu dengan tanda jika pria mengalami mimpi basah dan wanita datangnya haid, jika hal tersebut sudah dialami oleh mereka maka status hukum dalam beribadah pun menjadi “WAJIB” dan semua muslim yang berilmu pun mengetahui, jika hukum wajib itu apabila yang mengerjakan mendapat pahala dan  yang meninggalkan mendapat dosa.

       Sebagai orang tua yang peduli dengan keberlangsungan agama anaknya dan karena merupakan sebuah kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk mengajarkan anaknya untuk beribadah maka setiap orang tua mulai mengajarkan cara beribadah kepada anaknya sejak dini yaitu dari anak-anak,karena untuk mencapai suatu hasil yang baik harus dilakukan dengan proses yang baik, cie elah. Tak terlepas dari orang tua saya, orang tua saya pun mengajarkan cara beribadah kepada saya sejak kecil,oke dimulai dari cerita puasa yang berimbalan. Imbalan ataupun reward, ya itu merupakan hal yang tak asing ditelinga anak-anak ketika berpuasa dibulan ramadhan,cara ampuh orang tua untuk menyuruh anaknya melaksanakan ibadah puasa,jika puasanya full sehari penuh dapat duit lima ratusan perak orang utan misalnya hehe ataupun nanti jika full satu bulan puasanya diberikan sepeda atau apalah yang membuat dia semangat untuk berpuasa,lah kalo begitu nanti niatnya berpuasa karena duit lima ratusan perak orang utan dong atau karena sepeda padahal kan beribadah harus karena Allah,ya beribadah memang niatnya harus karena Allah tetapi anak-anak kan belum baligh belum wajib untuk berpuasa dan ini cara dia belajar,cara  membiasakannya untuk berpuasa nanti kalau sudah baligh tak ada lagi imbalan ataupun reward tersebut karena dia insya Allah sudah mengerti dan belajar ilmu agama, ya begitulah namanya juga anak-anak kalo gak disogok ya gak mau,ya berarti para pejabat-pejabat korup disana masih anak-anak dong kalo disogok  baru mau, yah kalo begitu nanti kalo dijalan ketemu orang-orang tersebut,sapa aja “mau kemana dek?” hehe. Lalu ada lagi orang tua yang gak mau menyuruh anaknya untuk berpuasa karena takut nanti nyiksa anaknya, nanti anaknya terkena penyakit magh,yaelah takut nyiksa anaknya katanya,lebih baik sekarang pak/bu nyiksa anaknya daripada ntar di akhirat siksanya api neraka na’udzubillah lagian itu bukan nyiksa tapi membiasakan dan belajar lagian puasanya bertahap juga,lalu ada lagi nanti anaknya takut magh yah pak/bu puasa itu ibadah perintah Allah,Allah gak mungkin memberi perintah mencelekakan hambanya,lagian gak pernah terdengar diberita “ karena berpuasa seorang anak meninggal dunia”,lagian kalo magh kan sudah ada obatnya,jadi jangan takut hehe,saya tak bermaksud untuk mengajarkan tapi saya cuma memberikan gambaran.

    Begitulah kurang lebihnya puasa yang diajarkan orang tua saya ketika saya kecil dan itu mungkin juga dialami oleh anak-anak muslim lainnya. Berpuasa dengan imbalan walaupun secara bertahap dari awalnya berbuka jika jam 12 siang teng,kata orang dulu “puasa ngiyang-ngiyang,puasa makan siang” hehe, dan terus  berproses berjuang sampai akhirnya buka puasanya pas adzan maghrib seperti orang lainnya,Alhamdulillah. Memang sesuatu itu butuh perjuangan dan proses tak ada yang instan,mie instan aja dimasak dulu baru dimakan. Intinya masa anak-anak tidak bisa untuk dipaksa namun harus ada imbalan untuk membujuknya dan suatu hal tersebut tak bisa diraih langsung menuju hasil melainkan harus bertahap dan berproses sehingga membuat  beribadah itu menjadi mudah karena tak ada paksaan dalam agama,cie elah.Insya Allah bersambung……..  

Minggu, 12 Januari 2014

Becak Tua yang Malang



Langit yang cerah serta terik matahari sedang hangat-hangatnya menyinari sang bumi yang sudah tua renta ini. Terdapatlah seorang Kakek paruh baya berbadan kurus dan tinggi yang sedang santai dengan becak tuanya menunggu  penumpang yang habis berbelanja di pasar. Tak lama kemudian datanglah seorang Ibu muda berbadan bulat gempal seperti atlet sumo dari Jepang dengan membawa hasil belanjaan yang banyak menghampiri Kakek tersebut,lalu terjadilah perbincangan yang hangat diantara mereka :
Ibu muda                   : “ Kek,berapa tarif becak ke rumah saya di Jl.Pangeran Antasari ?”. (kira-  kira     jaraknya 5 km dari pasar).
Kakek                         :  “ 10 ribu rupiah saja bu ”.
Ibu muda                  :” Waduh kek mahal amat, 5 ribu aja kek gimana?”.
Kakek                       : “ Iya bisa bu,tp Ibu yang ngayuh becaknya ya,saya yang duduk di  dalam hehe “. (kakeknya melucu). “ Ya ga bisa lah bu,orang itu sudah harga pasarannya gitu kok”.
Ibu muda                  : (dengan muka sewot dan nada yang tinggi ) “yoweslah kek ! “.
Kakek paruh baya itupun memasukkan barang-barang belanjaan Ibu tersebut ke dalam becak tuanya,dan Ibu itu pun secara perlahan naik ke becak tua dan memasukkan badannya yang bulat gempal dengan terengah-engah. Dengan sisa kekuatan yang ada dengan gagahnya Kakek tersebut mulai mengayuh becaknya,roda becak semakin laju berputar di atas panasnya aspal dan diselingi dengan suara gesekan antara rantai dan ger yang sudah mulai berkarat,Ibu itu pun seakan-akan terbang karena terpaan angin. Tak lama kemudian terlihat dari jauh jembatan tinggi menjulang yang sangat di takuti oleh para tukang becak, dengan nada lembut Kakek itupun berkata kepada Ibu tersebut “ Bu,apakah Ibu bisa turun sebentar karena kita mau mendaki jembatan yang tinggi saya tak sanggup untuk mengayuh becaknya”, dengan nada tinggi Ibu itupun menjawab “ Siapa suruh jadi tukang becak ! usaha dong !Dasar tua bangka ! Panas tau ! pokoknya saya tidak mau turun ! “. Dengan ikhlas Kakek itupun mengayuh becaknya namun tak lama kemudian Kakek itu turun dari becaknya dan memutuskan untuk mendorongnya saja. Akhirnya Kakek paruh baya beserta becak tuanya dan tentu saja Ibu yang bertubuh bulat gempal tersebut berhasil menaiki jembatan tersebut.Alhamdulillah ucap Kakek paruh baya tersebut dengan penuh rasa syukur.
Tak lama kemudian setelah melewati jembatan terlihat turunan jembatan yang cukup curam alhasil Kakek paruh baya itupun kembali untuk meminta Ibu tersebut untuk turun karena itu sangat berbahaya,namun Ibu tersebut tetap saja mengelak dan tak mau turun.Kakek tersebut berhenti untuk istirahat sebentar sambil mengelap keringat namun tiba-tiba saja becak tua itu meluncur laju seperti roket, walhasil tak lama kemudian becak tua itupun terjungkal karena saking beratnya beban di depan daripada di belakang dan Ibu itupun beserta barang belanjaannya tersebut menggelinding bagai bola bekel,Kakek paruh baya itu terengah-engah sambil mengejar becak tuanya yang tiba-tiba saja meluncur sekejap mata. Kakek tua itu selamat karena belum sempat menaiki becak tersebut .Akhirnya niat hati sampai ke rumah tercinta alhasil sampai juga di rumah namun rumah yang ada kamar UGD nya alias rumah sakit. SEKIAN. Hehehehehe
Dalam cerpen tersebut kita bisa mengambil hikmah ataupun intisari pelajarannya di antaranya sesama manusia dan sesama muslim khususnya haruslah kita saling tolong menolong dalam hal apapun jika tidak bisa dengan materi bisa dengan tenaga, jika tidak bisa dengan tenaga bisa dengan pikiran, jika tidak bisa juga dengan pikiran maka dengan satu-satunya jalan terakhir dan semua orang pasti bisa yaitu dengan do’a,memberikan do’a-do’a yang terbaik kepada saudara kerabat yang kita tolong.
Sebuah watak keegoisan  dan tak berprikemanusiaan serta tak mau menolong dari seorang Ibu muda tersebut sangat tak patut untuk di contoh terutama kita wahai anak muda.Tak sepantasnya seorang Ibu bertubuh bulat gempal tersebut menaiki becak yang di kayuh oleh seorang Kakek kurus paruh baya,apalagi harga tarifnya di tawar lagi sungguh pelitnya hidup, padahal disana masih banyak tukang becak lain yang lebih muda kekar kuat lagi perkasa. Sangat di sayangkan juga karena keegoisannya dan kepurunannya (ketegaannya) Ibu tersebut tak mau menolong Kakek tersebut untuk turun sebentar dari becak sembari menaiki dan menuruni jembatan saja. Bahkan sempat saja Ibu itu ngomel dan berbicara kasar yang tak sepatutnya di ucapkan kepada orang lain betapa sakitnya hati Kakek tersebut.
Kata Guruku apapun bentuk kenakalan ataupun kejahatan yang kita lakukan kepada saudara muslim lainnya maka jika badan ataupun jasad orang tersebut di sakiti maka Nabi Adam as yang menangis dan apabila sampai kepada hati orang yang sakit maka Rasulullah SAW yang menangis,siapapun orang yang kita sakiti baik jasadnya ataupun hatinya maka dosanya sangat besar. Andai tak ada hijab di antara kita pasti tentulah kita takkan tega menyakiti saudara kita sesama muslim baik dari fisik maupun hatinya karena sesungguhnya Nabi Adam as dan Rasulullah SAW lah yang akan menangis jika ada dari kalangan umat muslim yang disakiti baik raganya ataupun hatinya,tentulah kita tak tega menyakiti kedua Nabiyullah tersebut. Karena kita sudah tahu akan hal ini saya pun merasa menyesal dahulu suka mengejek-ngejek  dan menyakiti teman-teman saya baik itu mencubit mengolok-olok dan hal-hal negatif lainnya,tapi apalah daya itu adalah sebuah masa lalu biarlah itu menjadi pengalaman dan berusaha agar tidak mengulanginya lagi dan mulai sekarang yuk mari kita jaga saudara-saudari kita umat muslim lainnya,jangan pernah sesekali untuk menyakiti raga,tubuh ataupun jasadnya dan juga yang paling penting itu hatinya. Karena kita bersaudara. Andai saja semua umat muslim mengetahui dan mengamalkan hal ini maka insya Allah berita-berita di media mengenai kekerasan,penganiayaan dan hal sebagainya takkan ada dan acara gosip di TV pun tak ramai seperti sekarang ini. Semoga kita selalu di beri taufiq hidayah dan selalu ada dalam lindungan-Nya.Aamin.Wallahu’alamubishowab. ( edtr:RN)


                     

Senin, 04 November 2013

Hidup Bagai Siklus Hujan


Hidup Bagai Siklus Hujan
Sore yang indah di akhir bulan Dzulhijjah yang berarti akhir tahun 1434 H. Bumi di selimuti oleh awan hitam tebal,hawa dingin mengepung dan butiran-butiran air jernih yang saling turun bergerombolan dengan satu tujuan yang sama yaitu membasahi bumi .  Serasa butiran-butiran itu membuat kolaborasi musik yang indah dengan memadukan atap genteng rumah sebagai alat musiknya. Tapi lama kelamaan kolaborasi yang indah itu terasa bosan didengar dan timbullah benak dalam hati dan berkata “ berisik “ hehe.  Tersadarkah pada diri ini seketika hujan itu tiba ke bumi turun dari langit lalu membasahi segala yang ada di bumi, awal mulanya saya kira itu merupakan air yang memang berasal dari langit, ada simpanan air khusus yang ada di langit kemudian diturunkan ke bumi bila waktunya telah tiba. Ternyata itu salah besar setelah saya belajar awal turunnya hujan itu pada dasarnya adalah berasal dari penguapan yang terjadi di bumi. Bagaiamana itu terjadi ? oke saya akan jelaskan sedikit di sini.
Awalnya mulanya air yang ada di bumi mengalami penguapan (evaporasi) akibat dari panas matahari, kemudian uap air akan terkumpul di udara dan mengalami kepadatan (kondensasi). Hasil dari kondensasi tersebut yang di kenal dengan sebutan awan. Akibat terbawa angin yang bergerak, awan-awan tersebut saling bertemu dan membesar dan kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena terlalu berat dan tidak mampu lagi ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi, proses ini disebut juga (proses presipitasi). Karena semakin rendah, mengakibatkan suhu semakin naik maka es atau salju akan mencair, namun jika suhunya sangat rendah, maka akan turun tetap menjadi salju.
Tanpa kita sadari air hujan yang turun ke bumi itu berasal dari bumi dengan kata lain “ dari bumi kembali ke bumi “, “from the earth back to the earth “. Sepertinya halnya hidup ini manusia di ciptakan dari tanah,sebagaimana firman Allah SWT : Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. ” (Shad : 71). Kita tak ada yang tahu dari tanah mana tubuh kita ini di ciptakan, kata guruku ketika orang meninggal dan di kuburkan di tempat (tanah) itu, maka dari situ pula lah tanah di ambil untuk menciptakan dirinya . Lalu ketika roh kita di tarik keluar dari jasad kita maka kita akan kembali ke tempat berlubang persegi panjang yang tak lain bernama tanah. Dengan kata lain “ dari tanah kembali ke tanah “, “from the ground back to the ground “ .  Sungguh tiada orang yang lebih mulia jasmaninya di sisi Allah, tiada yang lebih ganteng tiada yang lebih cantik semuanya sama dari tempat yang hina yang setiap waktu di injak oleh makhluk hidup yang berada di bumi baik itu menggunakan sendal ataupun sepatu yang bernajis ataupun sepatu yang harganya super mewah, dan nama tempat tersebut adalah tanah. Manusia itu semua sama derajatnya di sisi Allah, kecuali amal ibadahnya. Agar hilang kesombongan di hati dengan kesempurnaan jasmani yang dimiliki dan agar kita bertasbih memuji-Nya dengan segala kekurangan yang kita miliki. Dari tanah manusia berasal dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Mungkin ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua. Wallahu’alam bisshowab.